Selfie — Narsis atau Bukan?

IMG_20140304_142101

“Selfie” terpilih menjadi kata paling populer dalam tahun 2013 menurut kamus Oxford. “Selfie” menurut kamus Oxford, artinya adalah tindakan penggambilan foto diri sendiri, yang biasanya dilakukan dengan menggunakan smartphone ataupun webcam, dan biasanya kemudian diunggah ke berbagai media sosial. Dan pada tahun yang sama, #me (hashtag me) menjadi tag ke-3 paling populer yang bersumber dari 184 juta foto Instagram. Informasi ini dikeluarkan oleh aplikasi Instagram Web viewer (Webstagram).

Angka ini menunjukkan suatu fenomena dan memicu berbagai penelitian sosial, komunikasi, dan teknologi.Selfie pun menjadi pemberitaan dan gunjingan global ketika orang yang melakukan selfie adalah figur publik seperti Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan Paus Fransiskus.

Pertanyaan umum para peneliti seputar fenomena selfie antara lain kenapa orang melakuan Selfie? Siapakah yang paling sering melakukannya? Seberapa sering? Selfie seperti apa? Seberapa sering selfie diunggah ke media sosial? Dan reaksi apa yang biasanya didapat? Namun satu pertanyaan seputar selfie yang dapat memicu perdebatan adalah apakah Selfie merupakan bukti bahwa seseorang adalah narsis.

Narsis berasal dari sebuah karakter dalam mitos Yunani, yang bernama Narcissus, pemburu muda yang tampan dan mati tenggelam akibat terpikat terhadap refleksi dirinya sendiri di permukaan air. Dari mitos Yunani inilah muncul istilah narsistik, sebuah kata yang digunakan untuk menggambarkan pengejaran terhadap kepuasaan, kekaguman akan diri sendiri.

Christopher Lasch dalam bukunya “The Culture of Narcisim” (terbitan Norton & Company) menyatakan bahwa orang yang narsis bergantung terhadap orang lain untuk pengakuan akan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Orang yang narsis tidak dapat hidup tanpa pemirsa yang mengagumi. Bagi orang para narsistik, dunia adalah cermin.

Orang yang menjawab selfie tidaklah menunjukkan sifat narsistik biasanya mengatakan bahwa mereka memperlakukan selfie sebagai buku harian, pencatatan perjalanan kehidupan melalui foto diri. Ada juga yang menyatakan bahwa selfie sebagai eksplorasi diri, sehingga sama halnya dengan lukisan diri (self-portrait) pelukis terkemuka Rembrandt dan Andy Warhol.

Lepas dari setuju atau tidak Selfi menunjukkan seseorang narsis, ada ajakan untuk tidak menilai diri kita lebih tinggi dari yang semestinya. Ajakan ini terdapat dalam firman Tuhan dalam Roma 12: 1 -3 berikut ini:

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Writer : Rosie Siahaan –  05 Maret, 2014

Sumber : http://www.jawaban.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s